https://palembang.times.co.id/
Pendidikan

Ketika Guru PJOK Tasikmalaya Belajar Membaca Masa Depan Pembelajaran lewat AI

Senin, 19 Januari 2026 - 13:05
Ketika Guru PJOK Tasikmalaya Belajar Membaca Masa Depan Pembelajaran lewat AI Seorang guru saat menggunakan laptop pada kegiatan 'Smart in Movement' di Gedung PGRI Singaparna, Kabupaten Tasikmalaya, Minggu (19/1/2026) (FOTO: Harniwan Obech/TIMES Indonesia)

TIMES PALEMBANG, TASIKMALAYA – Di sebuah gedung yang selama ini menjadi saksi pertemuan para pendidik, Gedung PGRI Kabupaten Tasikmalaya di Singaparna, puluhan guru Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan (PJOK) duduk berdampingan. 

Laptop terbuka, catatan tersusun, dan diskusi kecil mengalir di antara mereka. Selama dua hari, 17–18 Januari 2026, ruang itu tidak sekadar menjadi tempat pertemuan rutin guru, tetapi menjelma sebagai ruang refleksi, transformasi, dan pembelajaran masa depan.

Kegiatan bertajuk Pengabdian pada Masyarakat (PPM) 'Smart in Movement' yang digelar Program Magister (S2) Pendidikan Jasmani Universitas Siliwangi (UNSIL) bersama mahasiswa angkatan 2024, menjadi penanda penting bahwa pembelajaran PJOK tengah memasuki babak baru,  babak ketika gerak tubuh, pedagogi, dan kecerdasan buatan bertemu dalam satu ruang belajar.

Selama ini, pembelajaran PJOK kerap dipersepsikan sebatas aktivitas fisik di lapangan berlari, melompat, melempar, atau bermain permainan olahraga. Namun di balik itu, terdapat perencanaan pedagogik yang kompleks, mulai dari tujuan pembelajaran, strategi, asesmen, hingga refleksi.

Di era digital, tantangan guru PJOK semakin besar. Kurikulum terus berkembang, karakter peserta didik berubah, dan teknologi hadir dengan cepat sering kali lebih cepat dari kesiapan guru itu sendiri.

Kondisi inilah yang melatarbelakangi lahirnya kegiatan 'Smart in Movement', sebuah program pengabdian masyarakat yang tidak hanya membawa materi baru, tetapi juga cara pandang baru terhadap profesi guru PJOK.

Kegiatan ini bukan agenda tunggal yang berdiri sendiri. Ia lahir dari kolaborasi panjang antara Program Magister Pendidikan Jasmani Universitas Siliwangi dengan organisasi profesi pendidikan jasmani di Kabupaten Tasikmalaya, yaitu IGORNAS Kabupaten Tasikmalaya, MGMP PJOK Kabupaten Tasikmalaya dan KKG PJOK Kabupaten Tasikmalaya.

Kolaborasi ini menjadi penting karena menyatukan tiga dunia sekaligus: dunia akademik, dunia organisasi profesi, dan dunia praktik pembelajaran di sekolah.

Sebanyak 36 guru PJOK terlibat aktif dalam kegiatan ini 20 guru SD dan 16 guru SMP yang datang membawa pengalaman lapangan, tantangan riil, sekaligus harapan akan pembelajaran yang lebih bermakna.

Koordinator Program Studi S2 Pendidikan Jasmani UNSIL, Dr. Dicky Tri Juniar, M.Pd., menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari tanggung jawab moral dan akademik perguruan tinggi.

Smart-in-Movement.jpgKoordinator Program Studi S2 Pendidikan Jasmani UNSIL, Dr. Dicky Tri Juniar, M.Pd (ketiga dari kiri) saat berfoto dengan para panitia pelaksana kegiatan di Gedung PGRI  Singaparna, Kabupaten Tasikmalaya, Minggu (19/1/2026) (FOTO : Harniwan Obech/TIMES Indonesia)

“Sinergitas dan kolaborasi antara Pendidikan Tinggi dan Pendidikan Dasar-Menengah harus terus terjalin, sehingga jalur pendidikan yang komprehensif akan terus didapatkan oleh siswa tanpa terputus,” ujarnya. Senin (19/1/2026).

Menurut Dr. Dicky, perguruan tinggi tidak boleh hanya menjadi menara gading ilmu. Ia harus turun, mendengar, dan hadir bersama guru-guru yang setiap hari bergelut langsung dengan peserta didik.

Pengabdian masyarakat, dalam konteks ini, bukan sekadar kewajiban tridarma, tetapi ruang dialog dua arah: kampus belajar dari sekolah, dan sekolah mendapat penguatan dari kampus.

Yang membedakan 'Smart in Movement' dari kegiatan serupa adalah fokus materinya. Kegiatan ini secara spesifik mengangkat pemanfaatan AI Gemini dalam penyusunan rencana pembelajaran PJOK berbasis deep learning.

Bagi sebagian guru, istilah Artificial Intelligence dan deep learning masih terdengar asing, bahkan menimbulkan kekhawatiran. Namun melalui pendekatan yang bertahap dan kontekstual, kekhawatiran itu perlahan berubah menjadi rasa ingin tahu.

Dalam sesi utama, peserta diajak memahami Apa itu AI dalam konteks pendidikan?, Bagaimana AI bekerja sebagai alat bantu guru, Batas etika dan kontrol guru terhadap hasil AI dan Prinsip deep learning dalam pembelajaran PJOK.

AI tidak diposisikan sebagai 'pengganti guru', melainkan sebagai asisten berpikir yang membantu guru menyusun kerangka pembelajaran secara lebih cepat dan sistematis.

Peserta tidak hanya mendengar paparan materi. Mereka langsung mempraktikkan penggunaan AI Gemini untuk menyusun draft perangkat ajar PJOK.

Mulai dari Menentukan tujuan pembelajaran, menyusun alur aktivitas Gerak, mengaitkan pembelajaran dengan pengalaman nyata siswa serta  menyelaraskan pembelajaran dengan pendekatan deep learning.

Diskusi berlangsung hidup. Guru-guru saling membandingkan hasil, merevisi, dan menyesuaikan dengan konteks sekolah masing-masing.

Di titik ini, terlihat jelas bahwa teknologi justru memantik refleksi pedagogik, bukan mematikannya.

Smart-in-Movement-2.jpgSejumlah peserta kegiatan  berforo bersama usai acara 'Smart in Movement' di Gedung PGRI  Singaparna, Kabupaten Tasikmalaya, Minggu (19/1/2026) (FOTO : Harniwan Obech/TIMES Indonesia)

Ketua IGORNAS Kabupaten Tasikmalaya, Unang Arifin, S.Pd., M.Si., melihat kegiatan ini sebagai jembatan yang selama ini dibutuhkan guru.

“Kegiatan ini menjadi bukti nyata kontribusi para mahasiswa S2 Pendidikan Jasmani Universitas Siliwangi kepada masyarakat guru-guru PJOK di Kabupaten Tasikmalaya agar menjadi jembatan implementasi antara teori yang didapat dan praktik yang harus dilakukan di lapangan,” katanya.

Menurutnya, banyak teori pendidikan yang baik, tetapi sering kali terhenti di ruang akademik. Melalui kegiatan seperti ini, teori mendapatkan ruang hidup di lapangan sekolah.

Hasil nyata dari kegiatan ini adalah tersusunnya draft perangkat ajar PJOK berbasis deep learning. Namun lebih dari itu, ada perubahan cara berpikir yang mulai tumbuh.

Guru mulai melihat bahwa teknologi bisa menjadi alat refleksi pedagogic, perencanaan pembelajaran dapat dilakukan lebih efisien dan pembelajaran PJOK bisa dirancang lebih bermakna dan kontekstual.

Dampak awal yang dicatat antara lain meningkatnya literasi digital guru, kepercayaan diri dalam menggunakan AI, serta pemahaman bahwa guru tetap menjadi pengendali utama proses pembelajaran.

Ketua Pelaksana kegiatan, Ahmad Arifin, S.Pd., menegaskan bahwa “Smart in Movement” bukan titik akhir.

“Kegiatan ini menjadi langkah awal untuk memperkuat kapasitas guru PJOK dalam memanfaatkan teknologi secara tepat guna,” ujarnya.

Ke depan, panitia menyiapkan workshop lanjutan di setiap kecamatan. Workshop ini dirancang dalam format klinik pendampingan, agar guru tidak hanya memahami konsep, tetapi benar-benar menghasilkan perangkat ajar siap pakai.

Dengan pendekatan kolaboratif antara perguruan tinggi, organisasi profesi, dan komunitas guru, kegiatan “Smart in Movement” berpotensi menjadi model nasional penguatan kompetensi guru PJOK.

Di tengah arus perubahan pendidikan, kegiatan ini menunjukkan bahwa transformasi tidak harus datang dari pusat. Ia bisa lahir dari daerah, dari guru-guru yang mau belajar, dan dari kampus yang mau turun tangan.

Di Gedung PGRI Singaparna, selama dua hari itu, para guru tidak hanya belajar tentang AI. Mereka sedang belajar membaca masa depan pembelajaran PJOK masa depan yang tetap berpijak pada nilai-nilai pendidikan, tetapi berani melangkah dengan teknologi. (*)

Pewarta : Harniwan Obech
Editor : Ronny Wicaksono
Tags

Berita Terbaru

icon TIMES Palembang just now

Welcome to TIMES Palembang

TIMES Palembang is a PWA ready Mobile UI Kit Template. Great way to start your mobile websites and pwa projects.